Anak yang mengidap ketergantungan narkoba memang menjadi sebuah pukulan terberat bagi semua orang tua. Terlebih belakangan ini, kecanduan narkoba sudah bukan lagi mendominasi pada orang kaya yang bisa membeli barang haram itu, melainkan juga telah menyentuh ke berbagai lapisan masyarakat yakni kaya-miskin, muda-tua, bahkan anak-anak.
Kecanduan narkoba juga bukan terjadi hanya pada anak yang kurang perhatian, melainkan juga terjadi pada anak-anak yang selalu 'diperhatikan' orang tuanya.
Menurut Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkoba Nasional (BNN) Komjen Pol Togar Sianipar, para orang tua hendaknya lebih memperhatikan perkembangan dan kegiatan anak-anaknya. "Bahaya narkoba bisa menyerang kepada siapa saja, termasuk anak-anak kita baik yang telah mahasiswa, SLTA, SLTP maupun SD dan TK," ujar Sianipar.
Menurut Sianipar, orang tua harus lebih memerhatikan anak-anaknya. "Jangan merasa telah memerhatikan dan telah memberikan kasih saya kepada anak-anak, hanya karena telah memberikan limpahan mated terhadap anak!" ujar Sianipar.
Menurut Sianipar, orang tua harus jeli memerhatikan perkembangan anaknya. "Kita harus tahu apakah anak kita disebut orang 5 B, yaitu anak sering bohong, bego/bolot, bobo, bolos, tukang bengong. Jika ada 5 B pada anak kita, kemungkinan kecanduan narkoba," ujar Sianipar.
Ditambahkan Sianipar, ada beberapa ciri-ciri anak yang kemungkinan kecanduan narkoba. Pertama, anak bersikap tidak normal, seperti melawan orang tua, sering bohong, 'bolot' (sering tidak nyambung bila diajak bicara), bengong, berpenampilan tidak terurus, menghabiskan banyak uang dan mencuri. "Anak-anak yang kecanduan narkoba akan mengabaikan norma-norma di dalam keluarga," ujarnya.
Jika benar ada ciri-ciri itu, maka orang tua harus membicarakan perubahan sikap anak, dengan cara yang komunikatif. Kalau tidak bisa berkomikasi dengan baik terhadap anak, ajaklah orang yang terdekat dengan anak, seperti pamannya, kakaknya atau tantenya, untuk membicarakan masalah itu.
Penyebab anak kecanduan narkoba, biasanya karena kurang perhatian di rumah, pengaruh lingkungan dan rasa ingin tahunya yang besar atau coba-coba. "Pada penderita narkoba, banyak yang mengaku tidak mendapat perhatian di rumah. Di sekolah pun, sering tak ada pelajaran sehingga banyak waktu luang. Kemudian si anak bergaul dengan orang yang pecandu narkoba," ujar mantan Kapolda Bali ini.
Untuk mencegah anak agar tidak kecanduan narkoba, maka orang tua harus bisa bertindak sebagai teman dan rumah tangga harus 'hangat'. "Berapa banyak orang tua yang membiasakan keluarganya untuk makan malam bersama dan berdoa bersama? Tentu di ibu kota ini sudah jarang terjadi," ujar Sianipar.
Peran guru
Dia juga mengingatkan agar sekolah maupun orang tua untuk lebih aktif saling berkomunikasi. Baik guru dan orang tua harus saling memberikan informasi soal perkembangan anak. Guru memberitahukan perkembangan anak di sekolah dan orang tua memberitahukan guru soal perilaku anak di rumah. Sehingga, tidak ada satu pun masalah yang dialami anak, yang terlewatkan oleh orang tua maupun guru.
Mantan Kepala Dinas Penerangan Polri ini juga mengingatkan agar para guru dan dosen agar benar-benar menekuni profesinya dengan baik. Jangan sampai profesi guru atau dosen malah dijadikan karier sampingan untuk mencapai karir yang lebih bagus, menurut mereka.
"Jangan sampai dosen asyik seminar atau menjadi narasumber di berbagai televisi dan mengabaikan mahasiswa yang seharusnya mendapat pelajaran dari dosen itu," ujarnya.
Sementara itu, Tika Bisono, psikolog yang dekat dengan dunia remaja, juga mengingatkan para orang tua agar lebih memerhatikan anak-anaknya. "Seorang pecandu narkoba pastinya terlihat perilaku yang terganggu. Misalnya, semula tidak merokok menjadi perokok, pola makan tidak teratur bahkan tidak peduli lagi terhadap kebutuhan tersebut, serta pola tidur pun mulai terganggu," ujar Tika.
Perubahan lainnya bisa dilihat melalui merosotnya prestasi belajar dan menjadi kurang responsif atau lebih banyak pasif. Dan perlu dicurigai, jika memang di rumah kehilangan benda-benda yang cukup bernilai. Apalagi jika ia menjadi pintar dalam berbohong dan membuat alasan. Jika memang kita temui hal itu pada diri anak, maka kita harus mencari tahu secara jelas kemungkinan kecanduan narkoba itu.
Menurut Tika yang terpenting adalah komunikasi." Tetapi tidak boleh ada pemaksaan sama sekali, apalagi menuduh. Jika kita tidak biasa bicara dengannya, kita bisa pakai jasa moderator yang dekat dengan anak dan orang tua," tambah Tika.
Diobati
Ciri lainnya pada pecandu narkoba, adalah melalui perubahan fisik sang anak. Untuk ciri ini dr Sun Sunatrio dari Yayasan Asa Bangsa menjelaskan, bagi para pengguna sabu-sabu dan amfetamin yang terjadi adalah ketegangan psikologis dan akan merusak otak. Dan bila terlalu berlebihan akan menjadi gila.
Sedangkan ciri bagi para pengguna putau maka jika mereka pada suatu saat menagih mereka akan mengalami diare yang berkepanjangan. "Yang terjadi selanjutnya bobot badan akan menyusut dan yang lebih parah adalah keadaan sakau," jelas dokter ahli anestesi yang juga paramedis di Yayasan Asa Bangsa.
Pada keadaan sakau ini, penderita akan menderita kejang yang hebat. Keluar cairan dari mulut dan hidungnya. Rasa gatal yang luar biasa di bawah kulit di seluruh tubuhnya dan tanpa sadar akan membentur-benturkan diri. Hingga keadaan terparah adalah tak sadarkan diri.
Pada awal-awal mengonsumsi ia akan terlihat mengantuk dan lamban, namun jika ia sedang dalam kondisi menagih ia menjadi susah tidur. Namun, Sunatrio mengingatkan yang lebih mudah dikenali justru pada perubahan sikap. "Jika Anda ingin meyakinkan diri, cara termudah adalah dengan tes urine, karena tes itu akan menjelaskan semuanya," tambah Sunatrio.
Menurut Sianipar, bagi orang tua yang sudah mengetahui bahwa anaknya kecanduan narkoba, agar segera membantu anak itu untuk mengobati kecanduannya itu. Bawalah ke panti rehabilitasi segera atau ke rumah sakit yang membantu penyembuhan korban yang kecanduan narkoba.
"Orang tua juga jangan merasa malu untuk menerima anaknya yang kecanduan narkoba. Karena mereka adalah korban. Hal itu bukanlah semata-mata kesalahan anak semata, kemungkinan besar juga merupakan kesalahan orang tua dan lingkungan," ujar Sianipar.
Sementara itu, menurut dr Sun Sunantrio, proses menyembuhkan seorang pecandu narkoba harus memadukan unsur body, soul and mind. Untuk fisik, Asa Bangsa sendiri menerapkan prosedur Accelerated Neuro Regulation (ANR). Prosedur ini dapat mempercepat masa sakau yang memang menjadi tahap tersulit dalam proses penyembuhan pasien. Jika masa sakau dapat terlampaui, selanjutnya tetap menumbuhkan percaya diri mereka bahwa mereka bukan sampah masyarakat dan tetap memotivasi mereka untuk bisa bersih dari narkoba.
Dan yang terpenting menurut Sunatrio, pecandu narkoba ini harus dijauhkan dari lingkungan yang dapat mengingatkan mereka tentang kenikmatan narkoba. "Yang terbaik memang disterilkan dari orang-orang yang memang masih menjadi pemakai atau lingkungan yang masih melakukan kontak dengan narkoba, setidaknya untuk jangka waktu satu hingga tiga tahun," kata Sunatrio.
Karena pada jangka waktu tersebut, pasien masih memiliki keinginan kuat untuk tetap mencicipi narkoba. Sehingga yang aman adalah menjauhkannya dari segala sesuatu yang dapat mengingatkannya pada masa-masa mengonsumsi narkoba.
(CR38/M-7) |