Situasi Epidemi HIV di Indonesia
Pertumbuhan Epidemi HIV di Indonesia sangat pesat, butuh upaya penanggulangan yang serius.
Ada 90-130 ribu orang yang telah terinfeksi HIV di Indonesia
- Pada akhir tahum 2002 diperkirakan ada 90.000 sampai 130.000 orang yang telah terinfeksi HIV. Jumlah orang yang terinfeksi tersebut terus bertambah dengan pesat. Terutama ditularkan melalui pengunaan jarum suntik yang tak steril pada pengguna narkoba suntik dan juga seks berisiko.
Lebih dari 13 juta orang yang berisiko tertular HIV
- Diperkirakan ada lebih dari 13 juta orang berisiko terinfeksi HIV yang disebabkan oleh perilaku berisiko, baiki pelangga penjaja seks, istri pelanggan penjasa seks, pengguna narkoba serta pasangan seksnya.
Sudah ada kepedulian kita semua ?
Tingkat penularan HIV tumbuh di seluruh pelosok negeri. Data Departemen Kesehatan mengindikasikan fenomena pengingkatan pada pengguna narkoba suntik serta pada penjaja seks yang berhasil diamati.

HIV tumbuh secara pesat diantara para pekerja seks di seluruh pelosok negeri.
(Sumber : Departemen Kesehatan, RI)
Pertumbuhan infeksi HIV pada waria penjaja seks di Jakarta mencengangkan sebesar 22 persen. Pada pekerja seks komersial, lebih dari satu orang diantaranya 20 pekerja sek telah terinfeksi HIV. Pada populasi narapidana di negara kita juga ditemukan peningkatan penularan HIV leboh dari 25 persen terutama melalui pemakaian jarum suntik bersama.
Para mantan narapidana yang akan bebas yang terkena HIV dapat menularkan HIV kepada pasanganya.
Peningkatan penularan HIV pada pengguna napza suntik
yang berobat di panti rehabilitasi napza

Prevalensi HIV tertinggi pada pengguna narkotika suntik
Satu dari dua pengguna narkoba suntik di pusat rehabilitasi narkoba terbesar di Jakarta telah terinfeksi dengan HIV.
(Sumber :Depatemen Kesehatan RI)
Hampir setengah dari pemakai barkoba suntik telah terinfeksi degan HIV. Penularan HIV pada para pengguna narkoba suntik sangat cepat karena pemakaian alat suntik yang tidak steril secara bersama-sama.
Penularan HIV sudah dapat dipastikan akan terus berlangsung. Misalnya data perilaku pada pengguna narkoba suntik di salah satu kota besar, ada delapan dari 10 pemakai narkoba suntik juga berhubungan seks secara aktif (termasuk membeli seks) dan tidak menggunakan kondom. Padahal penularan HIV pada pengguna narkoba suntil sangat tinggi, maka infeksi HIV dapat menular kepada pekerja seks, kemudian juga akan menular kepada pelanggannya.
Sudahkan kita menangkal ancaman penularan HIV secara serius ?
Komisi Naional Penanggulangan AIDS telah mengembangkan strategi nasional yang diharapkan dapat menjangkau seluruh sektor kehidupan kemasyarakatan. Namun kenyataannya, hanya sebagian kecil dari kelompok-kelompok populasi yang berisiko terinfeksi HIV apalagi kelompok-kelompok yang dikucilkan yang dapat memperoleh pelayanan pencegahan, bahkan melalui lembaga yang paling peduli dengan penanggulangan HIV.
Intervensi yang telah dilakukan selama ini hanya menjangkau 3 persen pkerja seks dan hanya 4 persen pelanggan-pelanggan mereka. Demikian pula pada penjangkauan pemakai narkoba suntuk bahkan pelayanan pencegahannya lebih rendah. Agar intervensi berdampak nyata pada penurunan penularan HIV, maka eksekutif, legislatif dan tokoh-tokoh masyarakat serta semua lapisan masyarakat harus berupaya lebih maksimal. Sehingga terjadi perubahan perilaku yang terhindar dari risiko infeksi HIV.
Tantangan-tantangan yang dihadapi untuk menangkal epidemi HIV?
- Kurang kesadaran tentang peningkatan epidemi HIV
- Masalah stigmatisasi dan diskriminasi yang masih luas
- Belum masuk sepenuhnya agenda kerangka kerja legislatif
Apa yang dapat kita lakkan terhadap hal ini ?
- Perlu Komitmen bersama antara pemerintah dan pihak ehislatif, tokoh-tokoh masyarakat dan seluruh lapisan masyarakat
- Perlu advokasi pada semua pihak di semua tingkatan
- Perlu dukungan anggaran dari semua sumber dana
- Perlu kepemimpinan politik dalam mendorong dan memantau implementasi strategi nasional peanggulangan penularan HIVC/AIDS.
|