Untitled Document

EPIDEMI HIV/AIDS DI INDONESIA, 2004 :
PENYEBARAN MELALUI HUBUNGAN SEKSUAL

Pada dewasa ini epidemi HIV/AIDS di sebagian besar wilayah Indonesia tiak lagi berada dalam tahap ‘rendah’ (low level epidemic), melainkan telah mencapai tahap kedua, yakni tahap ‘terkonsentrasi’ (concentrated epidemic). Ini berarti bahwa HIV/AIDS telah menyebar secara terkonsentrasi pada kelompok-kelompok populasi ‘berisiko tinggi’, dimana angka HIV + pada kelompok-kelompok itu > 5%, sedangkan di masyarakat uum masih < 1%. (Di Papua  pada dewasa ini epidemi HIV/AIDS dikhawatirkan telah mencapai tahap ketiga, yakni tahap ‘menyeluruh’ (generalized epidemic), di mana pengnyebaran HIV + telah meluas di masyarakat umum dan angka HIV + di masyarakat umum telah mencapai ³ 1%.)

Di Indonesia kelompok-kelompok ‘berisiko tinggi’ adalah : (1) pengguna Napza suntik (injection drag users – IDU), (2) pekerja seks komersil (commercial sex workers – CSW): kelompok terahir ini meliputi : pekerja seks perempuan, waria dan pekerja seks laki-laki. Dengan menggunakan metodologi estimasi tertentu, diperoleh perkiraan besar populasi dari kelompok-kelompok ‘berisiko tinggi’ dan perkiraan jumlah mereka yang telah terinfeksi HIV pada thun 2004 sebagai berikut :

Perkiraan Besar Populasi, Prevalensi dan Jumlah HIV+ pada Kelompok Beresiko Tinggi
Kelompok Beresikio Tinggi
Estimasi Besar Populasi
Prevalensi HIV+
Estimasi Jumlah HIV+
IDU
124.000 - 196.000
27%
43.000
Pasangan Seksual IDU
94.000 - 149.000
9%
11.000
Narapidana (Banyak IDU)
74.000
12%
9.000
Pekerja Seks Prempuan
185.000 - 273.000
3,5%
8.000
Pelanggan PSP
6.600.000 - 9.600.000
0,4%
4.000
Gay
575.000 - 1.700.000
0,9%
10.000
Waria
7.800 - 17.000
12%
1.500
Pelanggan Waria
149.000 - 351.000
2,4%
6.0000
Perkiraan Jumlah HIV +
90.000 - 130.000

Prevalensi HIV + di Kalangan Pekerja Seks

Angka HIV + di kalangan perkerja seks sangat bervariasi, jenis pekerja seks dan wilayah. Pada 2002, angka HIV + di kalangan pekerja  seks perempuan bervariasi dari 8% (Riau) hingga 17% (Papua). Angka HIV + di kalangan waria, pekerja seks laki-laki dan gay di Jakarta berturutan adalah 22%,4%,2,5%. Yang terpenting disadari ialah bahwa angka-angka (prevalensi) ini meningkat terus sejak 1997 dan tidak ada tanda-tanda menurun.

Selain itu, tidak boleh dilupakan, bahwa HIV di kalangan pekerja seks perempuan hanyalah satu sisi saja dari gambaran yang ada. Di lain sisi, dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah laki-laki pelanggan pekerja seks perempuan berlipat ganda jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pekerja seksnya sendiri. Sekian ribu di antara laki-laki tersebut diperkirakan telah terinfeksi HIV pada saat ini. Sehingga di sini tidak lagi dapat diperdebatkan, siapa sebetulnya yang menulari siapa.

Prevalensi HIV di Kalangan Perkeja Seks
        Perempuan di Riau dan Papua

epidemi

Di Manakah Mereka Berada ?

 

Para laki-laki yang menginginkan seks komersial, dapat menemukan berbagai pekerja seks di berbagai tempat dan suasana : (1) para pekerja seks “langsung “ di “lokalisasi” atau “lokasi” seks komersial. Namun di luar itu, banyak pula laku-laki pelanggan seks komersial mendapatkan dari perkerja seks “tak langsung”, yang dapat ditemukan di berbagai tempat hiburan, seperti bar, pantai pijat, karaoke dan hotel-hotel tertentu. Mereka bisa pula mendapatkannya dari pekerja seks”langsung” yang beroperasi di jalanan, yang relatif sulit terjangkau oleh upaya-upaya pencegahan.

Upaya Pencegahan

Upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di kalangan para pekerja seks dilakukan dengan melakukan kegiatan penjangkauan dan pendampingan, untuk memberdayakan mereka dalam tawar-menawar dengan pelanggannya agar memakai kondom.

            Upaya pencegahan lain ialah dengan menumbuhkan kesadaran di kalangan para pekerja seks agar secara teratur memeriksa diri dan mencari pengobatan apabila ternyata menderita infeksi nemular eksual (IMS), oleh karena adanya IMS sangat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi HIV apabila erhubungan seksual engan HIV +. Sudah tentu, upaya ini mengharuskan tersedianya fasilitas pelayanan pemeriksaan dan pengobatan IMS yang dapat diterima dan terjangkau oleh para pekerja seks.

            Berbagai kegiatan pencegahan ini dilakukan oleh sejumlah LSM bekerja sama dengan Dinas Kesehatan di sejumlah provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Kebanyakan LSM ini dibiayai oleh berbagai lembaga donor, antara lain oleh Program ASA( Aksi Stop AIDS)/FHI-USAID (Amerika Serikat) dan IHPCP/AusAID (Australia).

Kendala

Suatu kenyataan penting yang perlu diakui ialah bahwa seks komersial tidak mungkin diberantas dengan tuntas di negara mana pun juga. Penutupan lokaisasi pelacuran bukanlah solusi untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, melainkan malah sering kali berakibat sebaliknya. Begitu sebuah lokalisasi ditutup, para pekerja seks akan menyebar ke jalanan, dan mereka pun sulit terjangkau lagi oleh berbagai upaya pencegahan tersebut di atas.

Kendala lain ialah pada umumnya para pekerja seks perempuan tidak mempunyai kekuatan tawar-menawar dengan pelanggannya agar pelanggan memakai kondom. Maka suatu pertanyaan yang mendasar ialah apakah upaya penjangkauan pekerja seks perempuan saja sudah cukup untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS melalui seks komersial ? Bukankah tidak kalah pentingnya menjangkau para laki-laki pelanggannya juga ? Di manakah mereka bisa ijangkau ? Jawaban terhadap masalah ini ialah dikembangkannya program HIV/AIDS di tempat kerja para laki-laki, dan di berbagai tempat yang terjangkau, seperti pelabuhan dan tempat-tempat persinggahan truk di jalan-jalan luar kota.

KISAH KEBERHASILAN

THAILAND – Program kondom 100%, meliputi :

  • komitmen poitis & keuangan yang kuat dari pemerintah,
  • peratuan dengan sanksi bagi pekerja seks dan mucikari,
  • promosi kondom besar-besaran melalui  media messa,
  • pembagian kondom gratis,
  • pendidikan laki-laki di tempat kerja,
  • penggalakan pemeriksaan & pengobatan IMS

Hasil : dari 1991 hingga 2002, kasus baru HIV + turun 83%, dari 143.000 menjadi 24.000 per tahun

KISAH BERHARAPAN

KABUPATEN JAYAPURA – Di tengan-tengah lokasi seks komerisal Tanjung Elmo:

  • Sebuah LSM membuka klinik IMS dan layanan penjangkauan bagi para pekerja seks:
  • Para perkerja seks secara teratus memeriksakan diri untuk IMS;
  • Ada kesepakatan mucikari dan pekerja seks untuik memaksakan pelanggan menggunakan kondom.

Perda tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS dan IMS telah diundangkan (Perda no.20/2003 Kabupaten Jayapura0 Antara lain tercantum :

  • “PSK wanita mengharuskan pelanggannya menggunakan kondom pada saat melakukan kontak seksual “ (pasal 7);
  • “PSK wajib memeriksakan diri secara berkala terhadap penyakit IMS” (pasal 7);
  • “Mucikari wajib memberikan pembinaan kepada PSK tentang penggunaan kondom dan pemeriksaan kesehatan “ (pasal 8);
  • “PSK dilarang menjajakan diri di jalanan atau di tempat yang tidak memperoleh ijin pemerintah untuk transaksi seks komersial” (pasal 7).

Terlepas dari kelemahan dan kekurangan, ini adalah Perda tentang HIV/AIDS pertama yang pernah terbit di Indonesia.

Tantangan

Program untum pencegahan penyebaran HIV/AIDS melalui seks komersial-----salah satu sumber penularan HIV/AIDS terbesar di Indonesia----telah dijalankan oleh berbagai LSM dengan dana puluhan juta dolar sejak satu dasawarsa ini di Indonesia. Namun hingga sekarang progra itu baru menjangkau sekitar 10% dari pekerja seks yang diperkirakan ada di Indonesia.

Data dari survai-survai yang dilakukan secara berkala menunjukkan bahwa tingkat pemakai kondom tetap rendah. Mungkinkah terjadi perubahan perilaku dalam pemakaian kondom? Ternyata di beberapa negara Asia lain, hal itu biasa dicapai (lihat tabel berikut).

Maka beberapa pertanyaan kunci yang perlu dijawab oleh bangsa Indonesia

adalah :

  • Bagaimanakah strategi untuk memperluas program itu hingga benar-benar mempunyai dampak meredam penyebaran HIV/AIDS melalui seks komersial ?

  • Apakah pemerintah Indonesia sudah siap untuk mengambil alih kegiatan yang selama ini didorong dan dibiayai oleh lembaga-lembaga donor luar negeri bila kelak lembaga-lembaga itu mengakhiri kegiatannya di Indonesia ?
  • Bila tidak, alternatif realistik apakah yang dapat diambil oleh bangsa dan pemerintah Indonesia ?

 

Perubahan Perikalu Memakai Kondom di Lingkungan Seks Komersial
di India, Kamboja dan Indonesia

epidemi